Orang yang tidak mempelajari logika mudah menjadi korban manipulasi yang terdengar masuk akal. Berdasarkan riset dari Stanford Center for the Study of Language and Information, 80% keputusan harian manusia lebih dipengaruhi oleh emosi dan asumsi daripada analisa logis. Inilah sebabnya mengapa iklan menyesatkan, hoaks, dan argumen palsu tetap berpengaruh di masyarakat. Contoh keseharian seperti belanja impulsif karena diskon, debat dengan pasangan yang fokus menang daripada memahami, atau kemarahan terhadap berita viral tanpa klarifikasi, menunjukkan lemahnya landasan berpikir kita. Logika bukan sekadar kemampuan bicara atau hafalan rumus simbolik, tapi keterampilan hidup. Ia berfungsi sebagai pagar pikiran yang melindungi kita dari pengaruh emosi atau pihak yang terlihat meyakinkan tapi sebenarnya menipu. Dalam buku Logika karya Muhammad Nuruddin, dijelaskan bahwa logika adalah alat membedakan mana yang benar-benar benar, bukan sekadar kelihatan benar. Ia bukan untuk m...
Sharing threads on experiences, opinions, and critical reflections